Layanan Masyarakat Hubungi 022-4205668 atau email kec.surban@bandung.go.id

Sejarah Sumur Bandung

Kecamatan Sumur Bandung adalah salah satu kecamatan tertua di Kota Bandung. Batas wilayah dan jumlah kelurahan di Kecamatan Sumur Bandung pada awalnya ditetapkan berdasarkan pada PP Nomor 16 Tahun 1987 tentang perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat Bandung dan Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung dan kemudian diperbaharui melalui penetapan berdasarkan pada Peraturan Daerah  Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pemekaran dan Pembentukan wilayah Kerja Kecamatan dan Kelurahan di Lingkungan Kota Bandung.

Kecamatan Sumur Bandung mendapatkan nama Sumur Bandung tidak terlepas dari keberadaan sumur tua bersejarah yang terletak di jantung Kota Bandung. Terdapat dua sumur tua bersejarah di Kecamatan Sumur Bandung yang lokasi keduanya berada tepat di pusat kota.

Keberadaan sumur tua bersejarah ini terdapat di tepi sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung. Saat ini telah berdiri bangunan kokoh yang menaungi salah satu sumur tersebut. Meski begitu, keberadaan sumur tua bersejarah dibiarkan tetap utuh, bahkan diberi penutup berhiaskan mirip mahkota sehingga ada kesan bila sumur ini dihormati dan dijaga kelestariannya. Lokasi salah satu sumur ini terletak di lantai dasar Gedung Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jawa Barat. Keberadaannya sangat terawat, bahkan airnya sering diambil oleh beberapa petinggi dan masyarakat umum untuk dibawa pulang.

Menurut kabar, air itu sangat mujarab untuk mengobati berbagai penyakit. Uniknya lagi, aula gedung PLN ini pun diberi nama Bale Sumur Bandung. Sumur tua bersejarah lainnya, terletak di bawah gedung Miramar. Gedung ini lokasinya di seberang gedung PLN atau berjarak sekitar 20 meter. Bangunan bekas pertokoan lima lantai ini kini telah diratakan dengan tanah untuk dibangun sebuah pusat perbelanjaan modern. Konon menurut cerita rakyat dan sejarahnya, sumur ini terbentuk ketika Raden Adipati Wiranata Kusumah II yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Karapyak (sekarang Dayeuh Kolot) beristirahat melepas lelah di pinggir sungai Cikapundung.

Beliau baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh untuk ukuran waktu itu yang keadaannya masih berupa hutan belantara. Beliau berkeinginan untuk memindahkan ibukota dari Karapyak yang sering dilanda banjir Citarum ke kawasan yang bebas banjir. Saat beristirahat itu beliau menancapkan tongkatnya tidak jauh dari tempat duduk beliau. Ketika tongkat dicabut keluar air yang sangat jernih dari lubang bekas tongkat beliau.

Agar air itu tidak terbuang percuma lalu beliau bersama rombongan punggawa membuatkan lubang untuk menampung air tersebut, yang akhirnya di kemudian hari disebut Sumur Bandung, dan atas persetujuan Daendels ibukota Kabupaten Bandung dari Karapyak pindah ke kawasan dekat sumur tersebut, yaitu dengan dibangunnya Pendopo sebelah selatan alun-alun sekarang. Mengutip buku karya Haryoto Kunto Tahun 1986 berjudul Semerbak Bunga di Bandung Raya, bahwa diceritakan seorang bekas sipir Penjara Banceuy menuturkan, Sumur Bandung merupakan singgasana penguasa gaib Kota Bandung. Sang sipir yang konon sering mengembara ke alam gaib ini menyebutkan bahwa penghuni sumur itu adalah seorang putri bernama Kentringmanik. Kentringmanik adalah seorang dewi yang cantik rupawan.

Di singgasananya itu, sang dewi tinggal bersama saudara pengiringnya, yakni Eyang Dipayasa. Oleh seorang penulis asal Belanda, WH Hoogland, Dewi Kentringmanik disebut pula sebagai Bron Goding atau dewi penguasa mata air sungai Citarum. Dalam Wawacan Guru Gantangan, disebut pula adanya seorang tokoh bernama Kentringmanik Mayang Sunda. Dia adalah salah seorang permaisuri Prabu Siliwangi yang mempunyai putra bernama Guru Gantangan.

Namun belum ada kepastian, apakah Kentringmanik Mayang Sunda ini pula yang menghuni Sumur Bandung. Tidak banyak masyarakat yang menyadari bahwa Kecamatan Sumur Bandung memiliki sumur tua bersejarah yang menjadi sumber nama dari Kecamatan Sumur Bandung. Keberadaannya yang ada di dalam gedung PLN Distribusi Jawa Barat, menjadikan sumur tua bersejarah ini kurang disadari oleh masyarakat, khususnya generasi muda di Kota Bandung. Diperlukan pengembangan wisata sejarah oleh Pemerintah Kota Bandung agar peninggalan bersejarah yang menjadi nama salah satu kecamatan di Kota Bandung ini bisa kembali dikenal oleh masyarakat secara umum dan menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.

© 2018 Kecamatan Sumur Bandung. All rights reserved.