Layanan Masyarakat Hubungi 022-4205668 atau email kec.surban@bandung.go.id

Masjid Al Ukhuwwah

Masjid Agung Al Ukhuwah berada tepat di tengah-tengah kota Bandung dekat dengan pusat pemerintahan kota Bandung, , BEC Mall,dan BIP Mall letaknya di Jl Wastu Kencana no 27 Bandung diatara jalan Aceh dan Wastu. Lokasi yang sangat strategis menjadikan mesjid ini selalau ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan.

MASJID Raya Al Ukhuwah yang terletak di Jalan Wastu Kencana, No 27, Bandung, salah satu dari sekian banyak bangunan yang memiliki sejarah tersendiri yang cukup unik di Kota Bandung.
 
Keberadaan masjid yang terletak tidak jauh dari Balai Kota itu, memang tidak memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Kota Bandung. Hal itu lantaran, tempat ibadah kaum Muslim ini baru dibangun sekitar 1996-1998.

Jika melihat daftar Wali Kota Bandung, maka masjid itu kemungkinan dibangun pada era Wahyu Hamidjaja yang menjabat sebagai wali kota periode 1993-1998.

Nilai sejarah sekaligus keunikan masjid seluas 1.373 meter persegi itu adalah julukan yang diberikan warga sekitar sebelum bangunan itu dijadikan madjid bernama "rumah setan".

Sebutan tersebut ditunjukan ke bangunan yang pernah berdiri persis di lokasi Masjid Raya Ukhuwwah itu. Loge Sint Jan, demikian nama bangunan yang kemudian popular dengan "rumah setan" itu.

Loge Sint Jan sendiri adalah sebuah gedung yang dibangun pada 1896 yang digunakan untuk berkumpul orang-orang yang memiiki ideologi Freemason, sebuah gerakan kebebasan berfikir dan antidogma.

Kendati biasa digunakan untuk berkumpul para orang-orang aliran Freemason. Namun gedung tersebut terkesan sepi. Bahkan, setiap hari pintu-pintu gedung itu selalu tertutup.

“Aktivitas di gedung itu hanya dilakukan malam hari, adapun kalau siang hari selalu sepi sehingga terkesan angker. Dari sana lah, maka orang-orang sekitar menyebutnya dengan rumah setan,” kata sejarawan Kota Bandung, Sudarsono Katam.

Orang-orang yang biasa keluar-masuk ke gedung itu, adalah mereka dari kalangan menak, elit, baik dari kalangan penjajah, maupun pribumi. Keberadaan gedung tersebut bertahan selama sekitar 60 tahunan.

Sebab, pada 1960 an, rumah setan itu dibongkar rata dengan tanah. Tidak ada keterangan jelas mengapa gedung Loge Sint Jan itu dibongkar. Namun jika merunut pada keterangan yang ada pada Wikipedia, pembongkaran gedung itu kemungkinan seiring adanya pelarangan Loge Agung Indonesia dan organisasi lain atas alasan mengikuti ajaran Freemason.

Setelah dilakukan pembongkaran, selang tidak berapa lama, di tempat tersebut kembali dibangun sebuah gedung yang kemudian dinamakan dengan gedung Graha Pancasila.

Berbeda dengan era Loge Sint Jan yang terkesan angker, gedung Graha Pancasila selalu ramai dengan berbagai macam aktivitas. Kesan angker yang dulu pernah melekat di tempat itu seketika berubah menjadi ramai dan semarak.

“Gedung Graha Pancasila menjadi tempat untuk berbagai amcam kegiatan. Di sana ada pertemuan, pertunjukan, dan lain-lain. Bahkan di salah satu sudutnya dijadikan sekretariat Wanadri. Sangat jauh berbeda ketika masih menjadi Loge Sint Jan,” jelas Katam, yang juga penulis buku Gemeente Huis, itu.
 
Dari sisi fisik bangunan, ada perbedaan yang cukup mencolok antara Loge Sint Jan dan Graha Pancasila. Jika sebelumnya bangunan itu terlihat lebar ke samping, maka pada saat menjadi Graha Pancasila, bangunan di sana memanjang. Perbedaan itu menyebabkan tempat parkir lebih sempit, tidak seperti saat masih bernama Loge Sint Jan.

Kendati suasana di sana lebih hidup, namun gedung tersebut pun akhirnya bernasib sama dengan Loge Sint Jan. Graha Pancasila kembali dibongkar untuk kemudian di tempat itu dibangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Ukhuwwah.

© 2019 Kecamatan Sumur Bandung. All rights reserved.